Mengenal Bank Syariah

Mengenal Bank Syariah

Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin Syariah,
Kajian Utama, 02 – Desember – 2009, 05:00:45

Gharib Jamal, salah satu peletak batu pertama bank Islam dalam makalahnya Al-Masharif wa Buyut At-Tamwil (hal. 45) menerangkan bahwa bank Islam adalah setiap lembaga yang bergerak di bidang perbankan yang berkomitmen menjauhi sistem pembungaan ribawi. Dr. Abdullah As-Sa’idi menyebutkan definisi yang lebih detail: “Lembaga perbankan berorientasi bisnis yang dibangun di atas syariat Islam.” (Ar-Riba, 2/1021)
Menilik definisi di atas, bisa kita simpulkan bahwa bank-bank syariah memiliki ruang gerak yang cukup luas:
1) Bergerak di bidang mashrafiyah (keuangan), dalam hal ini yang paling menonjol adalah masalah wadi’ah (simpanan/deposito).
2) Bergerak di bidang tijariyah (bisnis).
a. Sistem bagi hasil (profit sharing) Di dalamnya terdapat masalah musyarakah (partnership, project financing participation), mudharabah (trust financing, trust investment), muzara’ah (harvest yield profit sharing), dan musaqah (plantation management fee based an certain portion of yield).
b. Sistem jual beli (sale and purchase) Di dalamnya terdapat masalah
1) Murabahah (deferred payment sale/jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati)
2) Bai’us Salam (infront payment sale/pembelian barang yang diserahkan kemudian hari, sedangkan pembayaran dilakukan di muka)
3) Istishnaa’ (purchase by order or manufacture/kontrak antara pembeli dan penyedia barang. Dalam kontrak ini, penyedia barang menerima pesanan dari pembeli)

Dalam praktiknya, bank-bank syariah mengembangkan ruang gerak mereka lebih luas seperti:
a. Bergerak di bidang sewa/leasing (operational lease and financial lease/akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti perpindahan kepemilikan atas barang atau jasa itu sendiri) yang dikenal dalam fiqih Islam dengan nama ijarah.
b. Bergerak di bidang jasa (fee-based services). Di dalamnya terdapat cukup banyak masalah antara lain: wakalah (deputyship/ pelimpahan kekuasaan oleh seseorang kepada orang lain dalam hal-hal yang diwakilkan), kafalah (guaranty/jaminan yang diberikan oleh penanggung kepada pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban pihak kedua atau tertanggung), hiwalah (transfer services/ pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya, atau merupakan pemindahan beban utang dari orang yang berutang menjadi tanggungan orang yang berkewajiban membayar utang), rahn (mortgage/menahan salah satu harta benda tak bergerak milik peminjam sebagai jaminan atau hipotek), dan qiradh (soft and benevolent loan/pemberian harta kepada orang lain yang dapat ditagih atau diminta kembali. Dengan kata lain, meminjamkan tanpa mengharapkan imbalan).

Dari definisi di atas, juga nampak jelas komitmen yang menjadi landasan bank syariah, yaitu:
1. Semua upaya, usaha, bisnis, dan gerak mereka harus dibangun di atas syariah Islam. Komitmen ini penerapannya cukup menyeluruh, meliputi hal-hal sebagaimana berikut: a. Akad dan aspek legalitas Setiap akad dalam perbankan syariah, baik dalam hal barang, pelaku transaksi, maupun ketentuan lainnya, harus memenuhi ketentuan akad, berupa rukun-rukunnya yang meliputi:
penjual, pembeli, barang, harta, akad, dan juga syarat-syaratnya, seperti:
a. Barang dan jasa harus halal
b. Harga barang dan jasa harus jelas
c. Tempat penyerahan (delivery) harus jelas
d. Barang yang ditransaksikan harus sepenuhnya dalam kepemilikan. Tidak boleh menjual sesuatu yang belum dimiliki atau dikuasai seperti yang terjadi pada transaksi shortsale di pasar modal

b. Bisnis dan usaha yang dibiayai Dalam perbankan syariah, suatu pembiayaan tidak akan disetujui sebelum dipastikan beberapa hal pokok. Di antaranya:
a. Apakah obyek pembiayaan halal atau haram?
b. Apakah proyek menimbulkan kemadharatan untuk masyarakat?
c. Apakah proyek berkaitan dengan perbuatan mesum/asusila?
d. Apakah proyek berkaitan dengan judi?
e. Apakah proyek dapat merugikan syiar Islam, baik secara langsung maupun tidak langsung?

c. Lingkungan kerja dan corporate culture (budaya perusahaan)
Hal ini meliputi masalah etika karyawan. Mereka harus bersifat amanah, shidiq (jujur), dan fathanah (cerdas). Juga cara berpakaian dan tingkah laku para karyawan harus mencerminkan bahwa mereka bekerja pada sebuah lembaga keuangan yang membawa nama besar Islam, sehingga tidak ada aurat yang terbuka dan tingkah laku yang kasar.

2. Menjauhi dan menghilangkan segala sesuatu yang mengandung unsur riba.
Komitmen ini tertuang dalam beberapa ketetapan di hasil muktamar bank Islam internasional, disampaikan oleh salah seorang pejabat teras mereka yang bernama Dr. Abdul Aziz Najjar:
a. Bunga dari segala transaksi qiradh (pinjam-meminjam) adalah riba yang diharamkan. Sebab nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah secara tegas mengharamkan semua praktik qiradh dengan sistem di atas.
b. Riba adalah haram, sedikit atau banyak.
Ini diambil dari pemahaman yang shahih terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda.” (Ali ‘Imran: 130)
c. Meminjamkan sesuatu secara riba adalah haram, tidak diperbolehkan walaupun dalam kondisi butuh atau darurat.
d. Mencari pinjaman (meminjam) dengan cara riba adalah haram, berdosa, kecuali bila dalam kondisi yang sangat darurat. Pernyataan ini dinukil dalam kitab Al-Mausu’ah Al-‘Ilmiyah wal ‘Amaliyah lil Bunuuk Al-Islamiyah (3/126). (Lihat Ar-Riba, Dr. As-Sa’idi (2/1021-1025), Bank Syariah, Antonio (hal. 29-34).

Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com

Esensi Murabahah dalam Perspektif Ekonomi dan Teori Pertukaran Sosial

riba-and-usury

Esensi Murabahah dalam Perspektif Ekonomi  dan Teori Pertukaran Sosial

Achmad Zaky,MSA.,Ak.,SAS

Definisi Murabahah

Secara harfiah murabahah berasal dari kata “ribh” yang berarti tambahan, keuntungan atau laba (Ayub, 2007).  Usmani dalam Widodo (2010) mendefinisikan murabahah adalah sebagai “is simply a sale”, jual beli yang pembayarannya bisa secara tunai atau sesuai kesepakatan antar kedua belah pihak. Antonio (2001), Karim (2010), Nurhayati & Wasilah (2008) IAI (2009), dan Zaid (2009)  mendefinisikan sebagai moda jual beli dengan menyebutkan harga perolehan, dan tambahan keuntungan yang disepakati. Dengan demikian, murabahah merupakan bentuk jual beli dan bukan moda pembiayaan.

Nurhayati dan Wasilah (2008) membagi murabahah menjadi dua jenis murabahah, yaitu 1) Murabahah tanpa pesanan; 2) Murabahah dengan pesanan. Antonio (2001) memberikan istilah murabahah dengan pesanan sebagai murbahah kepada pemesan pembelian (murabahah KPP).  Murabahah dengan pesanan terjadi dengan cara penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari pembeli. Murabahah dengan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk membeli barang yang dipesannya.

Rukun Murabahah

Rukun dalam transaksi murabahah adalah (Nurhayati & Wasilah, 2008) dan Yaya,dkk (2009) adalah 1) pelaku terdiri dari pembeli dan penjual, 2) obyek jual beli berupa barang yang diperjualbelikan, 3) ijab kabul /serah terima. Zaid (2009) memaparkan bahwa rukun murabahah adalah kedua belah pihak yang mengadakan transaksi mengetahui harga beli awal barang tersebut dan keuntungan yang diperoleh oleh penjual. Muammalat Institute dalam Widodo (2010) menambahkan harga barang (tsaman) sebagai rukun transaksi murabahah.

Murabahah dalam Pandangan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)

Teori pertukaran sosial (Social Exchange Theory) berakar pada sosiologi behavioris (Mustofa, 2010).  Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori ini antara lain: Thibault dan Kelley (1959); Homans (1961), Emerson (1962), dan Blau (1964). Pandangan teori pertukaran sosial mengungkapkan bahwa dua orang individu yang mengadakan interaksi akan selalu mementingkan keuntungan dan meminimalkan kerugian (Muttaqin, 2010).

Thibault dan Kelley dalam Gumilar (2008) memandang bahwa teori ini menggambarkan hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang  dapat memenuhi kebutuhannya . Salah satu motivasi memenuhi kebutuhan sebagaimana diungkapkan oleh Nye, Sabatelli, Thibaut & Kelley dalam Sabatelli (2010) dan Homans dalam Gumilar (2007) adalah adanya peningkatan nilai, dimana nilai tersebut merupakan sesuatu yang bernilai yang  dikalikan dengan probabilitas untuk mendapatkan hasil (keuntungan) yang lebih besar.

Prinsip dasar pertukaran sosial adalah distributive justice yaitu aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal dari Homans dalam Mustofa (2010) sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi:

” seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya – makin tingghi pengorbanan, makin tinggi imbalannya – dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya – makin tinggi investasi, makin tinggi keuntungan”.

Akad transaksi murabahah merupakan suatu akad transaksi pertukaran dua zat yang berbeda antara dua pihak dengan motif untuk mencari keuntungan. Karakteristik murabahah yang menghendaki pengungkapan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati oleh pihak penjual dan pembeli (Nurhayati & Wasilah, 2008).  Pengungkapan tersebut  menunjukkan bahwa harga jual (imbalan) sebanding dengan pengorbanan atau biaya perolehan (investasi) serta sebanding dengan keuntungan yang akan diperoleh atau disepakati. Hal ini memenuhi prinsip dasar pertukaran sosial.

Karim (2010) mengelempokkan akad murabahah sebagai akad dengan kategori natural certainty contract yaitu akad dengan kepastian pembayaran, baik dari segi waktu dan jumlah pembayaran. Kontrak jenis ini mengikat pihak yang bertransaksi untuk saling menukar aset (baik dalam bentuk financial asset maupun real asset). Masing-masing pihak berdiri sendiri tanpa menimbulkan pertanggungan resiko. Pertukaran inilah yang menghasilkan transaksi jual-beli. Dengan demikian, kontrak dengan kategori natural certainty sesuai dengan teori pertukaran sosial.

Murabahah dalam Pandangan Fiqih (Fiqh Maaliyah)

Munandar (2011) mendefinisikan jual beli sebagai tukar-menukar harta dengan harta, dengan tujuan memindahkan kepemilikan, dengan menggunakan ucapan ataupun perbuatan yang menunjukkan terjadinya transaksi jual beli.  Zaid (2009) memaparkan bahwa ulama fiqih terdahulu mengkategorikan murabahah sebagai bagian dari jenis jual beli. Jual beli murabahah ke dalam jenis jual beli amanah, sehingga jual beli amanah terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Jual beli murabahah, yaitu menjual barang dengan adanya tambahan keuntungan dari harga pokok.
  • Jual beli wadli’ah, yaitu menjual barang dengan harga yang lebih rendah dari harga pokok.
  • Jual beli tauliyah, yakni menjual barang tanpa memperoleh untung ataupun rugi.

Sifat dasar murabahah adalah jual beli, sehingga murabahah juga dikenakan syarat jual beli (Widodo,2010). Adapun persyaratan jual beli terdiri dari:

  1. Barang yang menjadi obyek murabahah harus sudah ada pada saat akad terjadi.
  2. Barang yang menjadi obyek murabahah telah sepenuhnya menjadi milik dan dalam penguasaan penjual.
  3. Transaksi murabahah dilangsungkan tanpa ada syarat.
  4. Penyerahan barang dilangsungkan pada saat akad dilaksanakan.

Antonio (2001) menambahkan syarat lain, yaitu: 1) penjual wajib menyampaikan kepada pembeli semua hal yang berkaitan dengan pembelian dan kondisi barang, 2) transaksi harus bebas riba, dan 3) pembeli memiliki kebebasan untuk melakukan pilihan (khiyar).  Selain syarat-syarat yang telah disebutkan, Badri (2009) dan IAI (2009) juga menekankan bahwa transaksi jual beli harus dengan obyek yang halal dan bebas dari unsur ketidakpastian (gharar) dan perjudian (maysir).

Berlandaskan beberapa pandangan fiqih yang telah dipaparkan, maka transaksi murabahah secara umum diperbolehkan. Akan tetapi, murabahah dengan pesanan yang bersifat mengikat, tidak sesuai dengan prinsip syariah (Antonio, 2001). Murabahah dengan pesanan mengikat tidak memberikan hak khiyar kepada pembeli. Selain itu, obyek transaksi belum sepenuhnya dimiliki penjual, namun sudah terjadi ketentuan mengikat. Kondisi inilah yang  menjadikan akad murabahah tidak sah atau batal (Widodo, 2010).

Esensi Pembiayaan Murabahah

Berdasarkan berbagai pemaparan berkaitan dengan konsep murabahah, sebagai suatu instrumen jual beli, maka beberapa esensi murabahah antara lain:

  1. Karakteristik fundamental murabahah adalah adanya transparansi harga perolehan barang ditambah dengan laba yang disepakati antara penjual dengan pembeli.(Widodo,2010; Rusyd,1986). Dengan demikian, murabahah merupakan biaya ditambah keuntungan, dan bukan pinjaman uang melalui mekanisme pembiayaan.
  2. Murabahah adalah jual beli, maka transaksinya harus memenuhi rukun dan syarat jual beli. (Antonio, 2001).
  3. Murabahah harus bebas dari unsur riba.(Antonio,2001; ad Duwaisy, 2009; Nurhayati & Wasilah, 2008)
  4. Barang yang menjadi obyek murabahah harus halal dan baik. (IAI, 2009; Karim, 2010).

Referensi

Widodo,Sugeng. 2010. Seluk Beluk Jual Beli Murabahah Perspektif Aplikatif. Asgard Chapter. Yogyakarta

Antonio, Muhammad Syafii. 2001. Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik. Gema Insani. Jakarta.

Ad Duwaisy, Ahmad bin Abdurrazzaq. 2009. Fatwa-Fatwa Jual Beli Oleh Ulama Besar Terkemuka. Pustaka Imam Syafi’i. Bogor

Ayub, Muhammad. 2007. Understanding Islamic Finance. John Willey & Sons. England

Ibn Rusyd, Muhammad Ibn Ahmad Ibnu Muhammad. 1988. Bidayatul Mujtihad wa Nahiyatul Muqtashid. Darul Qalam. Beirut.

Nurhayati, Sri; Wasilah. 2008. Akuntansi Syariah di Indonesia Edisi 2. Salemba Empat. Jakarta.

Karim, Adiwarman A. 2010. Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan Edisi 4. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

IAI. 2009. Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2009: Kerangka Dasar Penyusunan dan Pelaporan Keuangan Syariah. Salemba Empat. Jakarta.

Muttaqin, Husnul. 2010. Teori Pertukaran Teori Sosiologi Modern. http://sosiologiprofetik.wordpress.com di akses pada 30 Desember 2010.

Gumilar. 2007. Social Exchange Theory John Thibaut & Harold Kelley, http://gumilarcenter.com/Makalah/SocialExchangeTheory.pdf. diakses 29 Januari 2008.

Sabatelli, Ronald M. 2010. Social Exchange Theory – Major Contemporary Concepts, http://family.jrank.org/pages/1595/Social-Exchange-Theory-Major-Contemporary-Concepts.html. Diakses pada 20 Desember 2010

Mustofa, Hasan. 2010. Perspektif Dalam Psikologi Sosial. http://andinia-psikelompok.blogspot.com/2010/10/teori-pertukaran-sosial-social-exchange_30.html di akses 30 Oktober 2010

Zaid, Bakr Abu. 2009. Hukum Murabahah Baitul Mal wa Tamwil (BMT). http://wahonot.wordpress.com di akses 7 September 2009.

Yaya, Rizal; Aji Erlangga Martawireja; Ahim Abdurrahim. 2009. Akuntansi Perbankan Syariah Teori dan Praktik Kontemporer. Salemba Empat. Jakarta.

Syamhudi, Kholid. 2009. Karakter Bank Syariah. www.pengusahamuslim.com di akses 5 Januari 2011.

Munandar, Aris. 2011. Pengertian Jual Beli. www.pengusahamuslim.com di akses 5 Januari 2011.

Badri, Muhammad Arifin. 2009. Prinsip Jual Beli dalam Ajaran Islam. www.pengusahamuslim.com di akses 5 Januari 2011.

Afifuddin, Abu Abdillah Muhammad. 2009. Mengenal Bank Islam. AsySyariah. Oase Media. Sleman-Yogyakarta