riba-and-usury

Esensi Murabahah dalam Perspektif Ekonomi  dan Teori Pertukaran Sosial

Achmad Zaky,MSA.,Ak.,SAS

Definisi Murabahah

Secara harfiah murabahah berasal dari kata “ribh” yang berarti tambahan, keuntungan atau laba (Ayub, 2007).  Usmani dalam Widodo (2010) mendefinisikan murabahah adalah sebagai “is simply a sale”, jual beli yang pembayarannya bisa secara tunai atau sesuai kesepakatan antar kedua belah pihak. Antonio (2001), Karim (2010), Nurhayati & Wasilah (2008) IAI (2009), dan Zaid (2009)  mendefinisikan sebagai moda jual beli dengan menyebutkan harga perolehan, dan tambahan keuntungan yang disepakati. Dengan demikian, murabahah merupakan bentuk jual beli dan bukan moda pembiayaan.

Nurhayati dan Wasilah (2008) membagi murabahah menjadi dua jenis murabahah, yaitu 1) Murabahah tanpa pesanan; 2) Murabahah dengan pesanan. Antonio (2001) memberikan istilah murabahah dengan pesanan sebagai murbahah kepada pemesan pembelian (murabahah KPP).  Murabahah dengan pesanan terjadi dengan cara penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari pembeli. Murabahah dengan pesanan dapat bersifat mengikat atau tidak mengikat pembeli untuk membeli barang yang dipesannya.

Rukun Murabahah

Rukun dalam transaksi murabahah adalah (Nurhayati & Wasilah, 2008) dan Yaya,dkk (2009) adalah 1) pelaku terdiri dari pembeli dan penjual, 2) obyek jual beli berupa barang yang diperjualbelikan, 3) ijab kabul /serah terima. Zaid (2009) memaparkan bahwa rukun murabahah adalah kedua belah pihak yang mengadakan transaksi mengetahui harga beli awal barang tersebut dan keuntungan yang diperoleh oleh penjual. Muammalat Institute dalam Widodo (2010) menambahkan harga barang (tsaman) sebagai rukun transaksi murabahah.

Murabahah dalam Pandangan Teori Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)

Teori pertukaran sosial (Social Exchange Theory) berakar pada sosiologi behavioris (Mustofa, 2010).  Tokoh-tokoh yang mengembangkan teori ini antara lain: Thibault dan Kelley (1959); Homans (1961), Emerson (1962), dan Blau (1964). Pandangan teori pertukaran sosial mengungkapkan bahwa dua orang individu yang mengadakan interaksi akan selalu mementingkan keuntungan dan meminimalkan kerugian (Muttaqin, 2010).

Thibault dan Kelley dalam Gumilar (2008) memandang bahwa teori ini menggambarkan hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang  dapat memenuhi kebutuhannya . Salah satu motivasi memenuhi kebutuhan sebagaimana diungkapkan oleh Nye, Sabatelli, Thibaut & Kelley dalam Sabatelli (2010) dan Homans dalam Gumilar (2007) adalah adanya peningkatan nilai, dimana nilai tersebut merupakan sesuatu yang bernilai yang  dikalikan dengan probabilitas untuk mendapatkan hasil (keuntungan) yang lebih besar.

Prinsip dasar pertukaran sosial adalah distributive justice yaitu aturan yang mengatakan bahwa sebuah imbalan harus sebanding dengan investasi. Proposisi yang terkenal dari Homans dalam Mustofa (2010) sehubungan dengan prinsip tersebut berbunyi:

” seseorang dalam hubungan pertukaran dengan orang lain akan mengharapkan imbalan yang diterima oleh setiap pihak sebanding dengan pengorbanan yang telah dikeluarkannya – makin tingghi pengorbanan, makin tinggi imbalannya – dan keuntungan yang diterima oleh setiap pihak harus sebanding dengan investasinya – makin tinggi investasi, makin tinggi keuntungan”.

Akad transaksi murabahah merupakan suatu akad transaksi pertukaran dua zat yang berbeda antara dua pihak dengan motif untuk mencari keuntungan. Karakteristik murabahah yang menghendaki pengungkapan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati oleh pihak penjual dan pembeli (Nurhayati & Wasilah, 2008).  Pengungkapan tersebut  menunjukkan bahwa harga jual (imbalan) sebanding dengan pengorbanan atau biaya perolehan (investasi) serta sebanding dengan keuntungan yang akan diperoleh atau disepakati. Hal ini memenuhi prinsip dasar pertukaran sosial.

Karim (2010) mengelempokkan akad murabahah sebagai akad dengan kategori natural certainty contract yaitu akad dengan kepastian pembayaran, baik dari segi waktu dan jumlah pembayaran. Kontrak jenis ini mengikat pihak yang bertransaksi untuk saling menukar aset (baik dalam bentuk financial asset maupun real asset). Masing-masing pihak berdiri sendiri tanpa menimbulkan pertanggungan resiko. Pertukaran inilah yang menghasilkan transaksi jual-beli. Dengan demikian, kontrak dengan kategori natural certainty sesuai dengan teori pertukaran sosial.

Murabahah dalam Pandangan Fiqih (Fiqh Maaliyah)

Munandar (2011) mendefinisikan jual beli sebagai tukar-menukar harta dengan harta, dengan tujuan memindahkan kepemilikan, dengan menggunakan ucapan ataupun perbuatan yang menunjukkan terjadinya transaksi jual beli.  Zaid (2009) memaparkan bahwa ulama fiqih terdahulu mengkategorikan murabahah sebagai bagian dari jenis jual beli. Jual beli murabahah ke dalam jenis jual beli amanah, sehingga jual beli amanah terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

  • Jual beli murabahah, yaitu menjual barang dengan adanya tambahan keuntungan dari harga pokok.
  • Jual beli wadli’ah, yaitu menjual barang dengan harga yang lebih rendah dari harga pokok.
  • Jual beli tauliyah, yakni menjual barang tanpa memperoleh untung ataupun rugi.

Sifat dasar murabahah adalah jual beli, sehingga murabahah juga dikenakan syarat jual beli (Widodo,2010). Adapun persyaratan jual beli terdiri dari:

  1. Barang yang menjadi obyek murabahah harus sudah ada pada saat akad terjadi.
  2. Barang yang menjadi obyek murabahah telah sepenuhnya menjadi milik dan dalam penguasaan penjual.
  3. Transaksi murabahah dilangsungkan tanpa ada syarat.
  4. Penyerahan barang dilangsungkan pada saat akad dilaksanakan.

Antonio (2001) menambahkan syarat lain, yaitu: 1) penjual wajib menyampaikan kepada pembeli semua hal yang berkaitan dengan pembelian dan kondisi barang, 2) transaksi harus bebas riba, dan 3) pembeli memiliki kebebasan untuk melakukan pilihan (khiyar).  Selain syarat-syarat yang telah disebutkan, Badri (2009) dan IAI (2009) juga menekankan bahwa transaksi jual beli harus dengan obyek yang halal dan bebas dari unsur ketidakpastian (gharar) dan perjudian (maysir).

Berlandaskan beberapa pandangan fiqih yang telah dipaparkan, maka transaksi murabahah secara umum diperbolehkan. Akan tetapi, murabahah dengan pesanan yang bersifat mengikat, tidak sesuai dengan prinsip syariah (Antonio, 2001). Murabahah dengan pesanan mengikat tidak memberikan hak khiyar kepada pembeli. Selain itu, obyek transaksi belum sepenuhnya dimiliki penjual, namun sudah terjadi ketentuan mengikat. Kondisi inilah yang  menjadikan akad murabahah tidak sah atau batal (Widodo, 2010).

Esensi Pembiayaan Murabahah

Berdasarkan berbagai pemaparan berkaitan dengan konsep murabahah, sebagai suatu instrumen jual beli, maka beberapa esensi murabahah antara lain:

  1. Karakteristik fundamental murabahah adalah adanya transparansi harga perolehan barang ditambah dengan laba yang disepakati antara penjual dengan pembeli.(Widodo,2010; Rusyd,1986). Dengan demikian, murabahah merupakan biaya ditambah keuntungan, dan bukan pinjaman uang melalui mekanisme pembiayaan.
  2. Murabahah adalah jual beli, maka transaksinya harus memenuhi rukun dan syarat jual beli. (Antonio, 2001).
  3. Murabahah harus bebas dari unsur riba.(Antonio,2001; ad Duwaisy, 2009; Nurhayati & Wasilah, 2008)
  4. Barang yang menjadi obyek murabahah harus halal dan baik. (IAI, 2009; Karim, 2010).

Referensi

Widodo,Sugeng. 2010. Seluk Beluk Jual Beli Murabahah Perspektif Aplikatif. Asgard Chapter. Yogyakarta

Antonio, Muhammad Syafii. 2001. Bank Syariah: Dari Teori Ke Praktik. Gema Insani. Jakarta.

Ad Duwaisy, Ahmad bin Abdurrazzaq. 2009. Fatwa-Fatwa Jual Beli Oleh Ulama Besar Terkemuka. Pustaka Imam Syafi’i. Bogor

Ayub, Muhammad. 2007. Understanding Islamic Finance. John Willey & Sons. England

Ibn Rusyd, Muhammad Ibn Ahmad Ibnu Muhammad. 1988. Bidayatul Mujtihad wa Nahiyatul Muqtashid. Darul Qalam. Beirut.

Nurhayati, Sri; Wasilah. 2008. Akuntansi Syariah di Indonesia Edisi 2. Salemba Empat. Jakarta.

Karim, Adiwarman A. 2010. Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan Edisi 4. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

IAI. 2009. Standar Akuntansi Keuangan per 1 Juli 2009: Kerangka Dasar Penyusunan dan Pelaporan Keuangan Syariah. Salemba Empat. Jakarta.

Muttaqin, Husnul. 2010. Teori Pertukaran Teori Sosiologi Modern. http://sosiologiprofetik.wordpress.com di akses pada 30 Desember 2010.

Gumilar. 2007. Social Exchange Theory John Thibaut & Harold Kelley, http://gumilarcenter.com/Makalah/SocialExchangeTheory.pdf. diakses 29 Januari 2008.

Sabatelli, Ronald M. 2010. Social Exchange Theory – Major Contemporary Concepts, http://family.jrank.org/pages/1595/Social-Exchange-Theory-Major-Contemporary-Concepts.html. Diakses pada 20 Desember 2010

Mustofa, Hasan. 2010. Perspektif Dalam Psikologi Sosial. http://andinia-psikelompok.blogspot.com/2010/10/teori-pertukaran-sosial-social-exchange_30.html di akses 30 Oktober 2010

Zaid, Bakr Abu. 2009. Hukum Murabahah Baitul Mal wa Tamwil (BMT). http://wahonot.wordpress.com di akses 7 September 2009.

Yaya, Rizal; Aji Erlangga Martawireja; Ahim Abdurrahim. 2009. Akuntansi Perbankan Syariah Teori dan Praktik Kontemporer. Salemba Empat. Jakarta.

Syamhudi, Kholid. 2009. Karakter Bank Syariah. www.pengusahamuslim.com di akses 5 Januari 2011.

Munandar, Aris. 2011. Pengertian Jual Beli. www.pengusahamuslim.com di akses 5 Januari 2011.

Badri, Muhammad Arifin. 2009. Prinsip Jual Beli dalam Ajaran Islam. www.pengusahamuslim.com di akses 5 Januari 2011.

Afifuddin, Abu Abdillah Muhammad. 2009. Mengenal Bank Islam. AsySyariah. Oase Media. Sleman-Yogyakarta